Kamis, 01 Agustus 2013

Mari Belajar Bahasa Jerman

Hari ini pertemuan pertama pelajaran Bahasa Jerman di kelas X. Sebelum saya memulai materi awal untuk kelas X yaitu Perkenalan Diri untuk tema Identitas diri, saya berikan siswa beberapa pengucapan dalam bahasa Jerman yang saya dapat dari mata kuliah Phonetik waktu kuliah dulu. Kira-kira seperti ini materi yang saya beri.

1. Huruf Vokal
  • Huruf e dibaca [e] atau [ɛ] seperti pada kata : Sehat, Rehat
       z.B : Der, gern, Herr, sehr, mehr

  • Huruf e dibaca [ɘ] seperti pada kata : Dedak, Empat, Menang.

       z.B: kommen, wohnen, haben.



     2. Umlaut (huruf vokal a, o, u dengan tanda titik dua di atasnya).

  •  Ä dibaca [e] atau [ɛ]

   z.B:  Universität, Spät, Ärztin

  • Ö dibaca seperti bibir mengucapkan [o] tapi lidah seperti berposisi mengucapkan [e].

   z.B: Öl, möchten, Lösung.

  • Ü dibaca seperti bibir mengucapkan [u] tapi lidah seperti berposisi mengucapkan [i].

   z.B : Tür, für, Büro



     3. Diftong (dua voka yang diucapkan sekaligus)

  • Diftong eu dibaca [oi]

   z.B : neu, neun, teuer

  • Diftong ei dibaca  [ai]

   z.B : eins, zwei, drei

  • Diftong ie dibaca  [i:] (bunyi i panjang)

   z.B : vier, sieben, lieben



     4. Konsonan

  • Konsonan ch dibaca [kh]

   z.B: Ich, mich, machen, Woche

  •  Konsonan ck dibaca [kk]

    z.B : lecker, Ecke, backen

  • Komsonan h yang mengikuti  huruf hidup tidak dibaca melainkan sebagai pemanjang bunyi huruf hidup tersebut

   z.B : gehen [ge:en], fahren [fa:ren],

  • Konsonan J dibaca [y]

   z.B : Ja, Jahr, jung

  • Konsonan s dibaca [z] bila posisinya sebagai awal suatu suku kata

   z.B: singen, sehen, sagen

  • Konsonan sch, sp, st dibaca [shy] dengan posisi bibir agak maju ke depan dan ujung lidah menghasilkan bunyi mendesis seperti mengusir ayam.

   z.B : Schule, Tasche, spielen, Sport, Stuhl, stolen.

  • Konsonan z dibaca [tz] mendesis

   z.B : zwei, Zeit, Zigaret

  • Konsonan sz atau dalam bahasa Jerman ditulis dengan huruf β (eszet) dibaca [ss]

   z.B : groβ, Gruβ

Kira-kira seperti ini beberapa pengecualiannya dalam pengucapan Bahasa Jerman. Selebihnya cara pengucapannya sama dengan Bahasa Indonesia. 

Jadi bagaimana pendapatmu? Tidak sulitkan pengucapan Bahasa Jerman? 

Berikut ini saya berikan beberapa contoh kata untuk berlatih. Selamat mencoba. 

    Wer, Hose, Universität, Öl, Bücher, heute, mein, viel, dich, Glocken, Jahre, Sie, schlafen, Spiel, zusammen, heiβen

   Kata orang Jerman Übung macht den Meister (Latihan membuat sempurna) Jadi banyak-banyaklah berlatih.... :)


*z.B singkatan dari zum Beispiel ( Contoh)

Sabtu, 27 Juli 2013

Hidup Di Atas Roda




Ende kota yang memiliki sejuta cerita. Termasuk cerita tentang para tukang ojek.  

Dahulu ketika saya masih berseragam putih biru dan putih abu-abu bisa di hitung dengan jari tukang ojek yang berada di kota Ende.Kini para tukang ojek bagaikan jamur dimusim hujan. Bahkan kita tak bisa membedakan mana  pengendara biasa dan mana para tukang ojek. 
 
Klemens, ya, itu namanya seorang pria paru baya yang beprofesi sebagai tukang ojek yang kutemui malam itu. Ia menawarkan jasanya untuk mengantarkanku. Aku memintanya mengantarkanku ke sebuah warnet terdekat. Ia pun mengantarkanku ke sebuah warnet yang terletak di Jalan Ponegoro.

Saat turun dan sebelum melangkah masuk ku memintanya untuk menunggu karena aku tak lama. Kukira ia meolak tapi tenyata ia mengatakan "YA". Tak kusadari ternyata kuhabiskan waktu sekitar setengah jam di dalam warnet dan saat keluar Bapak Klemens masih menungguku dengan sabar.

"Sudah habis?" tanyanya.  Setelah melakukan pembayaran aku memintanya mengantarkan aku ke sebuah warung terdekat. Sesampainya di warung aku mengajaknya untuk makan bersama. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku karna sudah membuatnya lama menunggu tadi.

Sambil menungg makanannya disajikan Bapak  Klemens pun sedikit bercerita tentang dirinya. Sebelum memutuskan untuk menjadi tukang ojek, beliau adalah seorang pegawai di sebuah kantor pemerintahan di kota Ende (tidak perlu saya sebutkan Kantornya).

Dua tahun sudah beliau mencari nafkah denga hidup di atas roda. Bapak Klemens bercerita, pada mulanya ia memang merasa aneh dengan perubahan pekerjaannya. Apalagi sebelumnya ia selalu berada diruangan ber-AC namun tiba-tiba merasakan terpaan sinar matahari yang terik, berkeringat dan terkena debu serta asap knalpot. Akan tetapi, seiring berjalan waktu, kini ia sudah terbiasa dengan semua itu.

Pria yang berlamat rumah di Potulando ini pun sedikit bercerita tentang keluarganya. Istrinya dahulu merupakan seorang guru honorer di sebuah SD di kapungya yaitu Roga. Sama seperti Bapak Klemens istrinya pun berhenti dari profesinya di kampung, hijrah ke Ende dan kini bekerja sebagai kasir di sebuah toko.

Bapak Klemens merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Sama seperti diriku. Pria yang memeliki ijazah sajana ini tanpa ragu menceriterakan tentang keluarga, kehidupan dan pengalaman hidupnya seakan-akan ia sudah lama mengenalku.

Pagi-pagi ia harus pergi meninggalkan rumah dan keluarga. Sampai malam pun masih harus terus bekerja. Terkadang sehari ia hanya mendapatkan Rp.10.000 hingga Rp.20.000. Kadang pun tidak membawakan hasil apa-apa dalam sehari.
 
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA. Ia menawarkan untuk mengantarkanku kembali ke hotel tempat aku menginap yag hanya berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami makan.       

Yang menarik buatku dari pertemuanku dengan Bapak Klemens adalah cerita-ceritanya tentang pengalaman hidupnya. Aku merasa sebagai penumpang Bapak Klemens yang paling beruntung. Bukan hanya bisa berkenalan dengan pria yang baik hati ini tetapi juga dapat mendengarkan cerita-ceritanya tentang pengalaman hidupnya. 

Jumat, 17 Mei 2013

Mengenal Tenun Ikat

Tenun ikat adalah kain yang ditenun dari helaian benang. Tenun sendiri merupakan kegiatan membuat kain dengan cara memasukan benang pakan secara horizontal pada benang-benang lungsin. Alat tenun yang dipakai adalah alat tenun bukan mesin.

Sebelum ditenun, helai-helai benang diikat dengan tali plastik atau daun kelapa sesuai dengan corak atau pola hias yang diingini lalu dicelupkan ke dalam zat pewarna. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat tidak akan terwarnai. 

Teknik tenun ikat terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia yang terkenal dengan kain ikat di antaranya: Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor. Tenun ikat dapat dibedakan dari kain Songket berdasarkan jenis benang. Songket umumnya memakai benang emas atau perak. Motif kain songket hanya terlihat pada salah satu sisi kain, sedangkan motif kain ikat terlihat pada kedua sisi kain.

Sejarah perkembangan Tenun Ikat dimulai ketika Manusia purba di zaman Batu mengenal penutup tubuh. Pada saat itu mereka menggunakan kulit kayu Sukun hutan sebagai alat penutup tubuh. Proses pembuatannya, kulit kayu dikupas dari batang pohon, direndam dalam air atau lumpur beberapa hari lalu dikeringkan, dipukul-pukul hingga membentuk lembaran yang lunak, diberi motif dan untaian dari siput dan biji-bijian sebagai asesoris dan terakhir diberi tali sebagai pengikat.

Selanjutnya sedikit demi sedikit manusia mengalami perubahan hidup. Yang pada mulanya menutup tubuh dengan lembaran kayu, mulai berubah dengan mengenal tenun. Mereka menenun serat tali batang pisang dan daun kelapa untuk menghasilkan lembaran kain. Pada perkembangan selanjutnya manusia mulai mengenal pohon kapas yang menghasilkan biji kapas dan serat kapas. 

Hampir semua tenun ikat cenderung memiliki warna dasar gelap karena pada zaman dahulu masyarakat belum mengenal adanya pewarna buatan sehingga menggunakan pewarna alami dengan pilihan warna yang terbatas. Bahan-bahan yang digunakan sebagai pewarna alami yaitu seperti Tarum, mengkudu, kemiri, daun Ru Dao, akar pohon Ka’bo, kunyit, daun Menkude dan lain-lain. 

Menenun merupakan kemampuan yang diajarkan secara turun menurun dan diharapkan agar tetap dilestarikan. Kegiatan menenun dilakukan oleh wanita dengan tujuan, sebagai sumber mata pencaharian dan sebagai pengisi waktu setelah selesai bekerja di ladang. Selain itu dengan bisa menenun menjadi indikator bagi seorang wanita untuk siap dan pantas dinikahi. Para wanita ini tidak hanya asal menenun. Mereka membuat sehelai kain dengan mempertimbangan cita rasa dan sentuhan seni yang tinggi. 

Adapun fungsi dari kain tenun ikat antara lain:
  • Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari. (Tenun ikat dapat juga dijahit untuk dijadikan pakaian dan perlengkapan busana).
  • Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat.
  • Sebagai mahar dalam perkawinan.
  • Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan.
  • Sebagai penunjuk status sosial.
  • Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan.
  • Sebagai alat barter/transaksi
  • Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif-motif nya.
  • Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung. 

Gambar-gambar Contoh Tenun Ikat (Tenun Ikat Ende Lio) 
 
Contoh Tenun Ikat yang dijahit menjadi Pakain



Tenun Ikat sebagai Busana



Tenun Ikat sebagai Busana dalam Tarian dan Upacara Adat


Referensi:www.wikipedia.com

Sabtu, 11 Mei 2013

Berliner Strassen Kunstler (Seniman Jalanan Berlin)




          Video ini saya ambil sekitar tahun 2009 di Kota Berlin tepatnya di depan Reichstag. Saat itu saya bersama salah seorang teman sedang berada dalam baris antrian masuk ke dalam Reichstag. Antrian yang begitu panjang ditambah lagi dengan suasan dingin waktu itu membuat kami hampir putus asa tetapi tiba-tiba datanglah para seniman jalanan menghibur kami. Segera saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan moment ini. 
          Kunstler atau Seniman dalam bahasa Indonesia adalah istilah subyektif yang merujuk kepada seseorang yang kreatif, atau inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Penggunaan yang paling kerap adalah untuk menyebut orang-orang yang menciptakan karya seni, seperti lukisan, patung, seni peran, seni tari, sastra, film dan musik. Seniman menggunakan imajinasi dan bakatnya untuk menciptakan karya dengan nilai estetik.
          Saat berada di kota tersebut saya banyak sekali menemui Strassen Kunstler (Seniman Jalanan). Ada yang solo ada pula yang berkelompok seperti dalam video di atas. Mereka dengan gayanya dan kreasinya masing-masing menunjukkan kemampuan seninya. Berbeda tentu saja dengan pengamen atau penyanyi jalanan yang hanya duduk bernyanyi diiringi dengan dengan alat musik yang dimainkan. Para seniman dalam hal ini seniman jalanan lebih menggunakan rasa dan daya imajinasinya dalam menghibur. Tentu saja lebih menarik rasanya untuk menyaksikan para seniman dari pada penyanyi jalanan.  

 Referensi: www.wikipedia.com

Kisah Seorang Perawan

Laksana bunga tak terjamah tangan
Iapun hidup dan mati sebagai perawan

Karena pasukannya kewalahan, jenderal itu tak punya pilihan lain kecuali mengeluarkan perintah: “Untuk menghindari korban jiwa dan mesiu, kita harus mundur dengan teratur ke sebuah kota yang tak dikenal oleh lawan, dan di sana kita menyusun siasat baru. Kita akan berjalan menempu gurun, karena perjalanan berat itu lebih baik dari pada jatuh ke tangan musuh. Kita harus melalui biara dan tempat suci, karena di sana kita dapat memperoleh makanan dan persediaan pangan.”
Para prajurit mematuhi perintah itu karena memang tak ada jalan lain dalam keadaan segawat itu.   
Berhari-hari mereka menahan penat, panas, lapar dan dahaga di sepanjang gurun. Suatu hari tampaklah sebuah bangunan yang menyerupai benteng lama. Gerbangnya seperti pintu pagar tembok kota. Semangat mereka timbul. Mereka mengiranya sebuah biara, sehingga dapat digunakan sebagai tempat beristirahat dan memperoleh makanan.
Ketika mereka membuka pintu gerbang, mula-mula tak ada seorangpun yang keluar menyambut. Beberapa saat kemudian barulah muncul seorang wanita berpakaian serba hitam, hanya wajahnya saja yang tampak terbuka.
Kepada sang panglima wanita itu mengatakan bahwa tempat itu biara, karenanya diminta agar jangan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap para biarawati. Jenderl itu berjanji akan menjaga keselamatan biara, lalu memintakan makanan bagi para prajuritnya. Semua anggota pasukan pun dilayani di halaman biara.
Panglima itu berumur kira-kira 40 tahun, sifatnya keji dan pemberang. Karena tegang akibat kekhawatiran, ia ingin dihibur oleh wanita, dan bila perlu hendak memaksakan kehendaknya. Nafsu durhaka itu menyebabkan ia mengotori tempat suci para biarawati, tempat mereka menyembah Tuhan sepanjan hari, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang palsu dan kotor.
Meski telah janji kepada ibu Biara, tapi panglima itu memanjat tangga dan jendela milik seorang biarawati. Meski telah bertahun-tahun dalam doa dan tarak, kecantikan wanita itu tak luntur. Ia datang menghuni biara itu sebagai pengungsi dari dunia yang berlumur dosa, sehingga dapat bersembahyang dalam kedamaian.
Panglima itu memasuki kamar, lalu menghunus pedang dan mengancam hendak membunuh biarawati itu jika berteriak meminta pertolongan.
Biarawati itu dengan tenang tersenyum, bersikap seakan-akan bersedia memenuhi kemauan panglima. Ditatapnya panglima itu, dan ucapnya, “Silahkan duduk dan istirahat, Tuan tampak amat lelah.”
Jenderal itu duduk, yakin hasratnya akan terpenuhi.
Biarawati berkata, “Sungguh saya kagum terhadap prajurit, karena tidak takut terjun ke pangkuan maut.”  
Jendral penakut yang menghindar dari pertempuran itu menjawab, “Keadaan mengharuskan kami maju ke medan pertempuran. Seandainya orang tidak menyebut aku takut, aku pun berangkat sebelum diperintahkan memimpin pasukan. “
Biarawati tersenyum dan berkata, “Tahukah Tuan bahwa di temapt suci ini ada boreh, yang dapat digosokkan pada tubuh sehingga tak mempan oleh tebasan pedang yang paling tajam?”
“Hebat! Mana boreh itu? Aku mau menggosokkannya pada tubuhku.”
“Baik Tuan akan kuberi.”
Jendral itu tidak berpikir apakah hal itu tahyul atau bukan, karena yang mengatakan seorang biarawati suci.

Biarawati membuka tutup sebuah guci alit dan memperlihatkan boreh berwarna putih. Bagitu melihatnya, jenderal itu agak sangsi. Tapi biarawati segera mengambilnya sedikit lalu menggosokkannya pada lehernya sendiri, sambil berkata, “Jika Tuan tidak percaya, saya akan membuktikan. Hunuslah pedang dan tebaslah leher saya dengan segenap kekuatan Tuan. “
Jenderal itu ragu-ragu, tapi biarawati mendesaknya, sehingga akhirnya dihunusnya pedangnya. Maka ditebaslah leher biarawati itu.
Nyaris pingsan jendral itu melihat kepala biarawati terpenggal dan menggelundung ke lantai. Sadarlah jenderal itu betapa akal biarawati guna menyelamatkan dirinya dari tindak durhaka.
Sang biarawati meninggal. Di depan mata panglima itu yang tampak hanya jenazah sang perawan suci dan boreh. Dipandangnya ganti berganti. Jiwanya tergoncang, lalu menabrak pintu dan lari keluar sambil mengacungkan pedang yang berdarah, berseru-seru kepada pasukannya, “Cepat, cepat, kita pergi dari sini!”
Ia berlari terus, dan baru berhenti setelah beberapa orang parajurit memegangnginya. Dalam pada itu ia meraung-raung seperti anak kecil, “Aku bunuh dia! Aku bunuh dia!”


Sumber: KATA-KATA MUTIARA
Oleh      : Khalil Gibran