Jumat, 06 Desember 2013

SMA NEGERI I WOLOWARU SELENGGARAKAN PEMBINAAN ROHANI


Jelang Ujian Semester Gasal dan Natal 2013



Oleh Yoseph Nende Bendi, S.Pd & P. Stef Dampur, SVD



Realita kehidupan sosial zaman ini diwarnai dengan berbagai bentuk perubahan yang sekian sering tidak dapat dipahami dengan mudah oleh setiap individu maupun kelompok masyarakat. Hal ini tidak menutupi kemungkinan bahwa apa yang dipahami oleh seorang atau kelompok masyarakat tertentu tidak sesuai dengan nilai yang dianut masyarakat umumnya. Paradigma atau cara pandang seperti ini justru melahirkan berbagai perilaku menyimpang dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Lambat laun nilai–nilai kehidupan seperti nilai religius, keadilan, kebenaran, kejujuran, persaudaraan, dan berbagai nilai luhur lainnya mulai memudar bahkan hilang.




Mencermati fenomen seperti ini,  lembaga pendidikan SMA NEGERI I WOLOWARU memandang perlu untuk mengadakan kegiatan dalam bidang kerohanian. Bagi siswa-siswi yang beragama Katolik mengadakan rekoleksi yang dipimpin oleh Pater Nikomedes Mere, SVD sedangkan siswa-siswi beragama Islam mengadakan kegiatan Pengajian dan Pembinaan Rohani di salah satu Musola di Wolowaru.



Kepala SMA NEGERI I WOLOWARU, Yohanes Albinus Minggu, S.Pd menegaskan bahwa kegiatan rohani yang diselenggarakan ini merupakan salah satu bentuk pembinaan kesiswaan sebagai suatu hal yang sangat penting dan mendesak. “Pembinaan bagi siswa-siswi mesti disengajakan dan direncanakan secara sadar dan bertanggungjawab sebagaimana termaktub dalam visi

dan misi lembaga kami”, demikian kata Pak Albinus, sapaan akrab beliau.  “Visi lembaga kami yaitu: dengan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mampu mewujudkan lulusan yang unggul, baik dalam IPTEKS [Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni] maupun IMTAQ [Iman dan Taqwa],” ungkapnya.




Sementara itu, Ibu Asty Lengga, S. Ag dan Ibu Adelheid Sulistowati, S. Ag sebagai Guru Pendidikan Agama Katolik yang dimintai pendapatnya menegaskan bahwa Kegiatan pembinaan rohani ini bertujuan : Pertama, Menanamkan nilai religius dalam diri siswa. Kedua, Membangun kepekaan spiritual dalam diri peserta didik agar sanggup melihat kenyataan zaman dalam prespektif iman katolik .Ketiga, Memotivasi para siswa agar senantiasa menyediakan waktunya untuk berkomunikasi dengan Allah Sang Pemberi Kehidupan sekaligus asal, sumber dan tujuan kehidupan tiap manusia. Keempat, menyiapkan diri menghadapi ujian semester gasal tahun pelajaran 2013/2014 dan memaknai masa advent 2013 sebagai momen refleksi atas aksi para siswa selama tahun berjalan.

Perlu kami informasikan juga bahwa siswa kelas XII [yang Katolik] sudah mengadakan Kegiatan rohani dalam rangka mempersiapkan diri untuk menyongsong Ujian Akhir Nasional, yang didampingi oleh Suster Inesz, FCJ, dkk pada 22 s/d 23 Nopember 2013.





Beberapa siswi yang dimintai komentarnya setelah mengikuti kegiatan rekoleksi yaitu In, Cindy, Fani, Icha dan Ryl dari kelas X, mengungkapkan:”Kami sangat bergembira mendapatkan penyegaran rohani yang diberikan Pater Medes.

Pater mengatakan bahwa lebih baik berkeringat saat belajar daripada bercucuran air mata saat ujian”. Motivasi ini membangunkan kesadaran kritis anak-anak agar mampu memanfaatkan waktu belajar secara maksimal dan efektif.  Fabi Laur, salah seorang peserta kegiatan, berkomitmen bahwa dalam waktu yang akan datang, dia akan lebih serius dan tekun lagi pada saat belajar.  Pada sesi akhir pembinaan, Pater Medes, SVD menggarisbawahi: ”Hidup ini adalah seni dan penuh dengan untaian tanda tanya. Dikatakan seni karena sesungguhnya hidup itu merupakan anugerah terindah dari Tuhan sebagai Seniman Ulung kepada manusia, lewat orang tua yang telah melahirkan, mendidik dan membesarkan kita. Sementara, di sisi lain, hidup itu merupakan proses penuh tanda tanya yang mesti dijawab oleh setiap orang dengan pelbagai usaha dan perjuangan serta tindakan nyata untuk memberikan makna atas kehidupan itu”. Pater menambahkan: ” Salah satu upaya memaknai kehidupan ini adalah dengan cara mengasah nurani yakni dengan menghayati prinsip: ’kebaikan mesti dibuat dan keburukan mesti dihindari [good is to be done, evil is to be avoided]”.

Sabtu, 23 November 2013

Hidup

     Kehidupan merupakan sebuah pulau di lautan kesepian, dan bagi pulau itu bukit karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga merupakan keheningan perasaan, dan sungai merupakan damba kehausan. 
     Hidupmu, wahai saudara-saudaraku, laksana pulau yang terpisah dari pulau dan daerah lain. Entah berapa banyak kapal yang bertolak dari pantaimu menuju wilayah lain, entah berapa banyak armada yang berlabuh di pesisirmu, namun engkau tetap pulau yang sunyi, menderita karena pedinya sepi dan dambaan terhadap kebahagiaan. Engkau tak dikenal oleh sesama insan, lagipula terpencil dari keakraban dan perhatian. 
     Saudaraku, kulihat engakau duduk di atas bukit emas serta menikmati kekayaanmu-bangga akan hartamu, dan yakin bahwa setiap genggam emas yang kaukumpulkan merupakan mata rantai yang menghubungkan hasrat dan pikiran orang lain dengan dirimu. 
     Dimata hatiku engkau tampak bagai panglima besar yang memimpin balatentara, hendak menggempur benteng musuh. Tapi setelah kuamati lagi, yang tampak hanya hati hampa belaka, yang tertempel dibalik koper emasmu, bagaikan seekor burung kehausan dalam sangkar emas dengan wadah air yang kosong.
     Kulihat engakau, saudaraku, duduk di atas singgasana agung; disekelilingmu berdiri rakyatmu yang memuji-muji keagunganmu, menyanyikan lagu penghormatan bagi karyamu yang mengagumkan, memuji kebijaksanaanmu, memandangmu seakan-akan nabi yang mengejawantah, bahkan jiwa mereka melambungkan sukaria sampai ke langit-langit agkasa.
     Dan ketika engkau memandang kawulamu, terlukislah pada wajahmu kebahagiaan, kekuasaan, dan kejayaan, seakan-akan engkau adalah nyawa bagi raga mereka.
     Tapi bila kupandang lagi, tampak engakau seorang diri dalam kesepian, berdiri di samping singgasanamu, menadahkan tangan kesegala arah, seakan-akan memohon belas kasihana dan pertolongan dari hantu-hantu yang tak tampak - mengemis perlindungan, karena tersisih dari persahabatan dan kehangatan persaudaraan. 
     Kulihat dirimu, saudaraku, yang sedang kasmaran pada wanita jelita, memasrahkan hatimu pada altar kecantikannya. Ketika kulihat ia memandangmu dengan kelembutan dan kasih keibuan, aku berkata dalam hati, "Terpujilah Cinta yang mampu mengisi kesepian pria ini dengan mengakrabkan hatinya dengan hati manusia lain."
     Namun, bila kuamtai lagi, kentara dalam hatimu yang bersalut cinta terdapat hati lain yang kesunyian, sia-sia meratap hendak menyatakan cintanya pada wanita; dan di balik jiwamu yang sarat cinta, terdapat jiwa lain yang hampa, bagaikan awan yang mengembara, sia-sia menjadi titik-titik air mata kekasihmu ...
     Hidupmu, wahai saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah perumahan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandangan mata tetangga. Seandainya rumahmu tersaput oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di sebuah gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahknnya kelembah, karena lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.
     Kehidupanmu, saudaraku, diliputi oleh kesunyian, dan jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya manakala mendengar suaramu sebagai suaraku, atau manakala aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang telah memandang cermin. 

Suara Sang Guru-Kahlil Gibran

Jumat, 22 November 2013

Biarkan Aku Sendiri



Sekilas terbayang masa yang indah silam
Menyentuh tulus direlung hati terdalam
Kehilafan telah usai aku sesali
Kini menjadi harapan yang tak pasti

Pernah kucoba memutuskan untuk kembali
Membuka kembali pintu maaf yang lama tertutup
Namun keadaan ini enggan berikan jalan
Apa yang kurasakan kini telah percuma

Sepertinya aku harus terbiasa
Mengisi hariku tanpa kehadiranmu
Kini hatiku berhenti berharap
Memaksaku tuk harus tmenerima satu kenyataan
Sendiri dulu

Sementara aku membatasi pikiranku
Untuk tidak mengingat lagi masa yang telah lalu
Semakin aku mengenang
Hatiku semakin terluka
Seribu sesal terbesik
Menyisakan lara

Kehampaan hati perih kurasa
Semenjak ku putuskan untuk meninggalkanmu
Apa daya semua ini t'lah terjadi
Akhirnya ku terbiasa merelakan mu
Dan biarkan aku sendiri dulu